LCD


Sabtu, 13 Oktober 2012

Cinta Pandangan Pertama- PART I

Pada suatu pagi perjalanan menuju ke kelas, secara tidak sengaja Nakata dan Umay bertabrakan di koridor kampus. Umay yang sedang membawa buku-buku, buku-bukunya menjadi terjatuh ke lantai. Secara tidak langsung Nakata langsung membantu membereskan buku-buku yang terjatuh. Nakata adalah mahasiswa terpopuler di kampus. Karena, selain Nakata orang terganteng dan keturunan Jepang, Nakata juga anak dari pemilik kampus. Sedangkan Umay mahasiswi yang terpandai di kampus. Ia mendapat beasiswa sampai S1. Banyak cowok-cowok kampus yang suka padanya. Tapi, ia tidak tertarik satu cowok pun. Karena Umay fokus pada pendidikannya. Umay berasal dari keluarga sederhana. Sejak bertemu Nakata, Umay merasakan ada yang berbeda padanya. “Ya ampun ganteng banget sih nih cowok.” Kata Umay dalam hati. Umay terkenal dingin kepada setiap cowok-cowok di kampus baru kali ini dia merasakan begini. Nakata pun merasakan hal yang sama “Cantik banget sih nih cewek,” kata Nakata dalam hati. Setelah saling pandang-pandangan Nakata pun membuka percakapan dengan mengenalkan dirinya “Oh iya, saya Nakata Hitachi, panggil saja saya Nakata.” Kata Nakata sambil menyalurkan tangannya.
“Oh iya, kenalin juga saya Siti Humairoh biasa dipanggil Umay.” Jawab Umay sambil menjabatkan tangannya. “Oh ya ngambil jurusan apa may..?” Tanya Nakata. “Ehmm, aku ngambil jurusan teknologi dan informasi.” Jawab Umay. “Kalo kamu Nakata..?” tambah Umay lagi. “Aku ngambil jurusan kedokteran.” Jawab Nakata. Setelah itu Nakata dan Umay masuk ke kelas masing-masing. Tak terasa jam kampus telah usai. Pada waktunya pulang, saat Umay pulang bersama Martha, Nurul, dan Indah, Nakata menyapa Umay dari jauh “Umay….” teriak Nakata. Umay pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, lalu Nakata menghampirinya. “Ada apa Nakata..?” tanya Umay. “Ada yang mau aku omongin sama kamu.” Jawab Nakata. “Oh iya, Umay kita pulang duluan aja yaa gak enak nihh ada do’i..” ucap Martha, Nurul, dan Indah. “Ah kalian bisa aja.. Oke deh, maaf ya tha, rul, ndah gue gak bisa pulang bareng kalian.” Ucap Umay. “Iya woles aja kali may sama kita-kita…” Jawab Nurul. Setelah Martha, Nurul, dan Indah pergi. Umay langsung berbicara kepada Nakata. “Oh iya, ada apa ya nakata…?” tanya Umay. “Nanti malam ada acara gak..?” tanya Nakata. “Kebetulan gak ada Na, emang ada apa ya..?” jawab Umay. “Aku mau ngajak kamu dinner mau nggak..?” balas Nakata. “Ya udah.” Jawab Umay. “Oh iya, mau aku anterin pulang gak may..?” Nakata menawarkan. “Nanti ngerepotin kamu nggak..?” tanya Umay. “Gak kok, sama sekali gak merasa direpotin..” jawab Nakata sambil tersenyum. “Ya udah, makasih ya Na..” ucap Umay. Selama di perjalanan Nakata dan Umay saling berbincang-bincang, sambil Umay menunjukkan jalan menuju rumahnya. Setelah tiba di depan rumah. “Makasih ya Na..” ucap Umay. “Sama-sama may.” Jawab Nakata. “Nggak mampir dulu Na..?” tanya umay. “Nggak deh, makasih ya may tawarannya, tapi aku mau langsung aja..” Jawab Nakata. “Hati-hati di jalan ya Na..” ucap Umay. “Iya, jangan lupa nanti malem ya jam 7..” jawab Nakata. Setelah Nakata jalan, Umay langsung masuk ke rumahnya dan langsung menuju kamarnya. Ia langsung bertanya-tanya apa yang ia rasakan. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 17.00, Umay langsung mandi dan memilih-milih baju yang harus dia pakai nanti saat dinner. Ia tak tahu mengapa betapa semangatnya Umay untuk pergi dinner yang pertama kalinya. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Beberapa menit kemudian Nakata mengetuk pintu dan berkata “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam.” Jawab pembantu Umay sambil membukakan pintu. “Umaynya ada bi..?” tanya Nakata. “Ada, sebentar yam as…” Jawab bibi Ijah. “Silahkan duduk mas.” tambah bi Ijah. “Iya makasih ya bi..” ucap Nakata. “Bentar ya mas saya panggilin dulu neng Umaynya.” Ucap bi Ijah. “Iya bi.” Jawab Nakata. Bibi Ijah permisi masuk ke dalam untuk memanggilkan Umay. “Neng Umay ada yang mau bertemu sama neng di depan.” Ucap bi Ijah. “Siapa bi..?” tanya Umay. “Ga tau neng siapa, tapi orangnya kaya orang Jepang neng.” Jawab bi Ijah. “Oh, iya udah makasih ya bi.” Ucap Umay. “Neng cantik bener deh pake baju warna biru muda.” Seru bi Ijah. “Ah bibi bisa aja deh.” Jawab Umay sambil tersipu malu. Umay langsung menemui Nakata yang ditemani oleh bi Ijah. “Bi Umay pergi keluar dulu yaa..” pamit Umay. “Oh iya bi, kalo mama pulang bilangin ya Umay lagi pergi sebentar.” tambah Umay. “Iya neng.” Jawab bi Ijah. Nakata dan Umay langsung pergi. Nakata langsung membukakan pintu mobil. “Silahkan duduk my princess.” ucap Nakata. “Makasih ya Na..” Jawab Umay sambil tersenyum. Selama di perjalanan Nakata banyak memberikan pertanyaan. Setelahh tiba di restaurant, Nakata langsung turun dan membukakan pintu mobil. “Silahkan my princess.” Ucap Nakata. Nakata langsung menggandeng tangan Umay sampai meja yang sudah disiapkan untuk makan dinner. “Na bagus banget dekorasinya…” ucap Umay. “Makasih May, ini aku persembahkan buat tuan putrid yang tercantik.” Jawab Nakata. Nakata mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya, dan berkata “Maukah kau menjadi pacarku May..?” tanya Nakata. “Jika iya kamu boleh ambil cincin ini, dan jika tidak kamu boleh buang cincin ini.” tambah Nakata. “Aku gak mau…” ucap Umay. “Aku gak mau kalo masang cincinnya sendiri.” tambah umay. “Berarti kamu mau menjadi pacarku?” tanya Nakata. “Iya.” Jawab Umay sambil menganggukkan kepalanya. Nakata langsung memakaikan cincin pemberiannya di tangan kanan yang tepatnya di jari manisnya Umay. Setelah itu Nakata dan Umay duduk di meja yang telah dipesan Nakata, dan langsung memesan makanan. Sambil menunggu makanan yang sudah dipesan, Nakata berkata “May, kamu cantik banget deh malem ini.” “Makasih ya Na atas pujiannya.” Ucap Umay. “Bener deh kamu cantik banget malam ini.” tambah Nakata. Lalu Umay tersenyum. Setelah cukup lama menunggu makanan yang dipesan, pelayan mengantarkan makanan yang dipesan Nakata dan Umay. Setelah selesai dinner Nakata langsung mengantarkan Umay pulang ke rumahnya. Umay tiba di rumah pukul 21.30 dan Nakata berkata “Aku pulang dulu ya, dah malem gak enak sama mama kamu...”. “Oh iya udah, hati-hati di jalan ya..” ucap Umay. “Iya.” Jawab Nakata sambil memberikan ciuman di kening Umay dan Umay tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar